Dari aku yang sedang mendung ---

Akhir-akhir ini saya banyak merenungkan tentang pilihan-pilihan hidup.
Tentang bagaimana aku memilih untuk mengingat kepada seseorang yang sama di ingatan yang paling pertama ketika aku bangun tidur. Adalah sebuah pilihan untuk membangun rumah bersama, bermain bersama, berjalan berdua bersama, mau tinggal atau pergi.

Tuhan menciptakan manusia dengan freewill. Rasanya seperti Tuhan memberikan manusia untuk menikmati kemerdekaan sejati dalam memilih segala sesuatu dalam jalan hidup manusia tersebut. Kemerdekaan sejati untuk mencintai, memiliki, menyayangi maupun membenci.

Bagiku cinta adalah sebuah pilihan, tetapi jatuh kedalamnya bukanlah sebuah pilihan. Sebab jatuh cinta tidak bisa direncanakan. Cinta kadang tidak berujung, tetapi hendaklah ia dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Mengapa begitu, karena apabila kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati kalaupun cinta itu tidak berujung, tidak akan pernah ada rasa menyesal, ketika pun harus berpisah!
Gambar terkait
Segala sesuatu tidak ada yang kebetulan, segala seuatu bukannya tanpa tujuan. Tidak ada jatuh cinta tanpa tujuan, tidak ada kesedihan tanpa tujuan. Tidak ada bahagia tanpa tujuan. Kalaupun tidak memiliki bukan berarti tidak bahagia. Kalaupun berjarak bukan berarti tidak menikmati keindahan. Karena sesungguhnya bahagia itu muncul saat kita merasa kekurangan, dan menikmati keindahan muncul saat kita bisa menghargai sepi dan hening.

Dan untuk kamu, saya mencintaimu bukan karena suatu hari kita dapat membangun rumah tangga bersama (kalaupun dalam hal ini saya sangat ingin sekali). Saya mencintaimu karena saya sudah lebih dulu dicintai dan ketika aku membagi cinta yang ada padaku kepadamu itu hanyalah bonus.

Saya mencintaimu bukan tanpa ketakutan, sekalipun saya selalu bilang bahwa "saya tidak pernah takut menjalani ini denganmu". Tapi ah sudahlah, semua rasa ini tidak ada yang dapat mendefinisikannya.

Karena saya mencintaimu , dengan semua apa yang ada padamu. Lebihmu , kurangmu.

-Dari aku yang sedang mendung-

Mencari Kekasih

Hei,
Aku seorang gadis yang tengah asik bermain
Aku seorang gadis yang tengah asik merajut mimpi
Kemudian tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu
Seakan aku kehilangan waktu,

Usia sudah menginjak seperempat abad
Kini waktunya mencari kekasih
Bukan lagi mencari jati diri

Aku mencari kekasih di antara awan-awan
Di tengah gerimis hujan
Bahkan di tengah langit malam

Lalu kemudian aku melihatnya
Dia ada diatas sana, aku mulai tersenyum bahagia
Merasa sudah tenang karena dia ada

Tapi kemudian aku lupa ,bahwa aku harus menjaganya
Bukan malah terlena karena keberadaannya ,lalu lupa untuk melayaninya
Hingga suatu hari aku melihat, bahwa dia sedang merekah
Bersama dengan bidadari lain di atas sana

Hati ini patah, merana dan terluka
Tak bisa kusalahkan juga dia
Karena tak sepenuhnya ini salah dia
Aku yang lupa, aku yang terlena


Mungkin memang tanpa getaran


Hasil gambar untuk siluet memeluk dari belakang

Menjalani hubungan tanpa getaran itu seperti?

Ketika kamu ditanya lalu hanya diam saja. Kamu memandang kesisi lain padahal jelas saya ada disampingmu. Tapi meskipun kamu hanya diam, saya tetap suka.

Sesungguhnya saya masih tidak mengerti jalan pikiranmu. Karena bagi saya menjalan segala sesuatu tanpa "getaran" itu sulit, apalagi menjalani hubungan yang dimana adalah dua orang sedang belajar untuk menjadi satu.

Dan ketidakmengertian ini saya takutkan akan membuat saya menjadi orang yang paling penakut. Saya tidak bisa maksimal mencintai kamu kalau saya masih tidak bisa mengerti jalan pikiranmu.
Dan kalau mencintaimu membuatku menjadi takut, jelas saya tidak mau.

Karena ketika hanya saya saja yang memiliki getaran itu dan kamu tidak. Bukankah itu bisa menjadi sebuah alasan kelak untuk sebuah perpisahan?

Saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Tidak lagi untuk perpisahan, saya mohon. 

Saya berusaha untuk menjelaskan apa yang saya rasakan, saya inginkan dan apa yang saya bayangkan dalam hubungan ini. Tapi kamu masih diam dan memalingkan wajah ke sisi lain lagi.

Saya memelukmu dari belakang, berharap kamu bisa merasakan getaran dari dalam dada ini. Lalu kamu memandang kebelakang, dan kini kita saling melihat. Saya menatap matamu dalam, mencari sendiri getaran itu disana. Siapa tahu selama ini kamu menyembunyikan getaran itu disana , hanya saja terlalu malu untuk menunjukkannya.


---------------------------

Belum ketemu atau mungkin memang tidak ketemu.

Tidak mudah

Tidak mudah memang melupakanmu. 
Butuh proses yang sepertinya harus agak panjang untuk melupakanmu.

Namun, apalah artinya aku bertahan dalam perasaan yang kamu sendiri pun sudah tak lagi perjuangkan.
Apalah artinya bertahan dalam perasaan yang pada akhirnya hanya membuat rasa tak karuan dalam hati.
Apalah artinya menjaga harapan yang kutahu ujungnya hanya melahirkan sesak dalam dada kemudian.

Tidak mudah memang melupakanmu.
Seseorang yang pernah kukenal dengan perasaan terdalam.
Ah sepertinya aku terjatuh terlalu dalam kali ini.
Orang yang dulu begitu baik, namun nyatanya melukai kemudian.
Dan dengan seenaknya berkata "Yang aku ingin hanya melupakanmu"
Dalam hati aku berkata brengsek  bagaimana mungkin aku tiba-tiba menghilangkanmu dari ingatan?

Tapi sekali lagi, segala hal ternyata sudah berakhir. Kau sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Meski membuat luka yang membekas di hati. Hanya saja, barangkali luka ini adalah bagian dari hidupku yang memang harus dijalani.

Aku hanya ingin pindah. Tapi aku tidak bisa secepat yang kau katakan itu brengsek.
Aku pasti akan merangkak sedikit demi sedikit. Dan  melangkahkan kaki dengan langkah kecil. 

Jangan datang lagi! Sekalipun hanya lewat mimpi, aku mohon padamu jangan datang lagi!
Setidaknya sampai semua perasaan ini benar-benar biasa saja kembali.
Kamu sudah memutuskan hal yang telah kujaga dengan sungguh. 



























Ia adalah

Batas itu bukan jarak.

Ia hanya seperti kata cukup yang mengisyaratkan sesuatu hanya sampai di sini. 

Batas itu kemudian seperti mengingatkan bahwa, ada masa kita pernah bersama.

Mengingatkan kita bahwa kita pernah mencinta tanpa "batas" itu.

Tapi kini semua tak lagi sama.

Kita sesekali masih saling melihat

Sesekali kita masih saling merindu.

Tapi kita tak berani untuk saling bersentuhan.

Kita masih saling menginginkan, tapi tak ada lagi usaha yang sama seperti waktu itu. 

Kita  masih berdiri di tempat yang sama, tetapi sekedar melambai dari kejauhan pun tidak. 

Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya kenangan yang tersimpan disana.

Batas mungkin akhirnya bisa dikatakan sebagai pemisah. 

Yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelerai. 

Yang kemudian membuat kita belajar untuk merenung dan mengambil waktu. 

Tapi ketahui dan sadarilah bahwa batas bukanlah jarak apalagi sampai engkau jadikan sebagai pelarian.

Batas hanyalah sebagian dari kisah hidup kita yang mengatakan cukup, hanya sampai di sini, tidak bisa lagi, tidak sanggup lagi, tidak mampu. 

Dan sederet kata "Tidak" lainnya.

Ia adalah "antara" yang membuat kau dan aku akan sama-sama melihat pada hitam mata kita, lalu kita akan berucap dalam hati " sekian dan terima-kasih"





Hasil gambar untuk jarak antara kita










Sunyi dan Sendiri

Punya ruangan kerja sendiri untuk menulis dan membaca adalah sebuah keistimewaan.
Tenang. Sunyi. Senyap . Yang ada hanya saya dan buku harian atau layar komputer.

Dalam menghasilkan suatu karya , saya harus berada dalam mood yang tepat sehingga saya bisa mempersiapkan karya tersebut agar lahir dengan apik.

Pertama adalah kesunyian.
Bagi saya di dalam kesunyian ada sebuah kelonggaran disana. Kelonggaran tersebut akan memberikan kelegaan. Barangkali rasanya seperti saat engkau mendapatkan panggilan alam di pagi hari dan mengeluarkannya di dalam toilet. Tentulah rasanya puas dan lega bukan?!

Kedua adalah kesendirian. Belajar untuk tidak takut ketika sendiri adalah hal yang penting. Karena sering kali di dalam kesendirian, banyak orang merasa ditinggalkan, dikucilkan bahkan akhirnya memilih mati bunuh diri. Padahal bagiku kesendirian adalah waktu luang untuk dapat berbicara kepada dirimu dan hatimu. Engkau akan semakin mengenal, memeluk, bahkan juga sesekali berbenah. Tapi sekali lagi bicara soal berbenah, cenderung banyak orang yang tidak siap untuk "menemukan" setumpuk hal-hal kotor di dalam dirinya. Padahal itu juga adalah bagian dari dirinya.
Sering kali orang ketika sadar bahwa bagian-bagian kotor itu harusnya dibenahi , malahan mereka lari dan mencari sesuatu untuk menutupinya atau bahkan menguburnya dalam-dalam. Padahal harusnya bagian itu diperbaiki!

Dan kemudian saya teringat dengan quote sederhana tentang sunyi dan sendiri ,,

well, there's something really rewarding  about being alone in a room and writing and feeling like you're doing something really special." - Alex Ebert





Hasil gambar untuk being alone





Menjaga Hati - 2

Menyelamatkan hubungan yang kandas itu seperti menyelamatkan bangunan yang hampir runtuh.
Ada kemungkinan dalam prosesnya kamu akan tertimpa puing dan terluka.
Atau bahkan mati ...


Sebuah hubungan itu dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan. Ketika salah satu bagian dalam bangunan ada yang rusak entah karena tergerus waktu atau terkena badai , proses penyelamatan bangunan rusak dibutuhkan modal yang besar. Modal yang merupakan keberanian , kekuatan dan stok ketahanan emosi yang besar.
Dan satu hal yang harus diingat bahwa bangunan yang sedang coba dibenahi itu bisa roboh kapan saja!

Kita semua tahu betapa banyak hal "bodoh" yang dilakukan manusia atas nama cinta. Kita juga tahu tak sedikit hal-hal indah yang juga dilakukan manusia atas nama cinta. Tetapi satu hal lagi, bahwa dalam masalah hati jangan pernah tak tuntas, sebab akan meninggalkan sesal saat mati!

Buat para perempuan diluar sana yang sedang dan pernah berusaha sebegitu keras menahan fondasi bangunannya, lakukanlah itu sampai tuntas, lakukan segalanya , semampunya. Karena saya sangat tahu , celetukan andai saja dulu lebih menyakitkan ketimbang melakukan hal-hal yang terlihat super bodoh di mata orang lain.

Tetapi hai perempuan , ingatlah untuk selalu hati-hati dengan hatimu. Semoga Sang Pencipta memberimu yang terbaik. Apapun hasil akhirnya, ingatlah perjuanganmu itu pasti akan jadi pelajaran yang berharga. Mungkin bukan untuk sekarang atau 3 bulan lagi atau bahkan bertahun kemudian. Tetapi yakinlah bahwa perjuanganmu akan menjadi cerita yang akan mewarnai kehidupanmu di depan sana,

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.