Belajar Mengasihi dan Mengampuni




Sabtu kemarin tiba-tiba saya kembali teringat kepada seseorang yang pernah menyakiti saya. Kembali teringat akan semua yang pernah dikatakan dan dilakukannya kepada saya. Peristiwa itu bermula dari +/- 2 tahun yang lalu , dan kadang masih sering berlanjut hingga sekarang. 

Karena menurut saya ini sudah cukup mengganggu , maka saya cerita kepada kakak rohani saya yang saya anggap sudah lebih dewasa dalam menghadapi persoalan yang seperti ini. 

Memang tidak mudah rasanya berperang secara roh seperti ini, apalagi tidak didukung oleh lingkungan sekitar yang notabene seharusnya mereka berada di garda paling depan berperang bersama denganku.
Tapi yasudahlah , kalau kata kakak rohaniku ketika memang sudah dicoba berbagai cara tetapi tidak mempan juga maka memang sudah saatnya mengangkat tangan dan membiarkan tangan Tuhan yang mengajar dan menghajar. Biarkan kedaulatan Tuhan yang bekerja dalam kehidupan ku dan memampukanku untuk melewati badai ini.

Saya tau bahwa saya sedang merugikan diri saya sendiri karena masih belum bisa mengampuni. Namun di sisi lain , saya berusaha untuk berdoa agar Tuhan memampukan saya mengampuni , dan saya melepaskan berkat untuk seseorang tersebut. Hal ini bukan perkara mudah , tetapi tetap harus saya lakukan karena toh Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni saya dan kita semua melalui pengorbananNya diatas kayu salib padahal jelas-jelas saya tidak layak untuk diampuni karena dosa-dosa saya yang terlalu banyak.

Tapi kemudian saya tertegur dengan Kasih dan Pengorbanan dari Pribadi Tuhan kita yang luar biasa. Masih ingat dengan kisah Yudas Iskariot ? Salah satu murid Tuhan Yesus yang mengkhianati Tuhan dengan 30 keping perak hanya untuk kepentingannya sendiri . Yesus tahu akan hal itu bahkan sebelum Yudas melakukannya , tapi apa yang dilakukan Yesus ? Dia tetap baik kepada Yudas dan sama sekali tidak membencinya.

Loh kok bisa?????

Itu karena fokus Yesus berbeda dengan kita . Fokus Yesus adalah pada kekekalan , bukan pada peristiwa yang terlihat saat itu. Bahkan pada saat Yesus ditangkap , Yudas masih memberikan ciuman pada Yesus (Lukas 22-47-48), namun apakah Yesus marah ? tentu tidak. Dapat kita baca bahwa emosi-Nya tetap stabil. Padahal Yesus sangat berhak untuk marah atau setidaknya memukul Yudas saat itu. Tapi pengendalian diri Yesus sungguh sangat luar biasa, bahkan dia tetap berdoa kepada Allah agar mengampuni mereka yang menyalibkanNya (Lukas 23:34).

Kisah ini membuktikan bahwa Yesus dalam rupa kemanusiaan_nya juga pernah disakiti, dikhianati oleh orang terdekatNya. Dia tidak hanya asal mengajar tentang pentingnya pengampunan melalui perkataan tetapi juga memberikan teladan melalui pengorbananNya diatas kayu salib untuk mengampuni dosa manusia!

Dari kisah ini juga kita belajar bahwa semakin dekat relasi dengan seseorang maka semakin besar pula kesempatan kita untuk saling melukai. Dan dengan kesadaran inilah saya melatih diri agar hanya mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kepuasan, kebahagiaan dan pertolongan saya. Bukan bergantung pada manusia, karena ya tadi manusia sedekat apapun relasi kita , semuanya berkesempatan untuk melukai dan mengecewakan.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
(Matius 5: 39-45)


Ketujuh ayat di atas memang mudah untuk hanya dibaca, namun melakukannya? Duh… rasanya harga diri ini jadi tercabik-cabik, kan? Bukannya ingin kembali menjalin relasi yang telah berubah, kita justru memilih menghindar dengan alasan “masih memulihkan hati”. Hmm… healing takes time, sih. Tapi mungkin luka yang sedang “dipelihara” ini membuat kita menyadari “the unknown me” yang selama ini tidak kita kenali. Ternyata kita adalah manusia yang rapuh dan tidak berdaya untuk memulihkan luka ini sendirian, sehingga untuk mengampuni orang lain pun tidak sanggup. Meski demikian, Yesus menguatkan kita: ketika kita mengasihi dan mengampuni seseorang melebihi dari yang bisa dilakukan oleh yang bukan-orang-percaya, sebenarnya kita sedang menghadirkan citra Bapa bagi orang lain—khususnya yang telah melukai kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengampuni musuh dan berdamai dengan mereka, seperti yang diperintahkan dan dilakukan Yesus?

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
(Matius 5:46-48)


Menjadi serupa Kristus berarti memiliki prinsip hidup, cara hidup, dan pengambilan keputusan seperti Kristus. Yah, itulah panggilan hidup bagi setiap kita yang sudah mengakui Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi. Artinya, saat kita berani memaafkan orang-orang yang selama ini membenci maupun melukai kita, sebenarnya kita juga sedang mengerjakan panggilan kita dan bertumbuh dewasa menjadi pribadi yang berkarakter seperti Kristus. Walaupun prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar (bahkan bergalon-galon air mata), Roh Kudus juga menolong kita untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat secara jiwa dan emosi.

Sebuah pengampunan hanya bisa diberikan ketika kita benar-benar mengenal identitas kita sebenarnya di hadapan Allah. Yaaa, kita adalah anak-anak Allah yang diterima-Nya dengan penuh anugerah melalui penebusan Kristus, dan dibebaskan dari penghakiman yang seharusnya kita terima. Kita juga adalah umat pilihan yang sudah dipersiapkan juga untuk suatu pekerjaan baik oleh Allah, dan kita tidak bisa dipisahkan dari kasih Allah. Sebagai orang percaya, kita juga dijadikan-Nya warga kerajaan Allah! Karena itu, kita harus menerima kebenaran ini sebagai suatu yang membebaskan dan mengingatkan kita untuk tidak menempatkan diri pada posisi yang “lebih benar”, “lebih baik”, ataupun “lebih berhak marah kepada mereka yang menyakiti” kita. Ini artinya kita juga harus mengikis ego diri sendiri; toh Bapa telah mengampuni kita—bahkan ketika kita masih berdosa!

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.
(Lukas 6:47-49)


Salah satu buah dari pertobatan adalah pemberian pengampunan kepada orang lain. Jika demikian, pertanyaannya adalah… haruskah kita mengampuni semua orang—literally? Hmm… tentu kita memerlukan hikmat agar tidak salah dalam menyikapi hal ini. Walaupun rasanya pedih, kita harus mengimani dan mengamini bahwa kita tidak sendirian: ada Allah yang juga merasakan kepedihan itu! Dia juga memahami betapa sulitnya untuk tetap mengasihi orang-orang yang sudah melukai kita. Karena itu, kita perlu jujur kepada Allah tentang hal ini. Kerapuhan kita yang disebabkan oleh dosa membuat kita tidak berdaya untuk memberikan pengampunan dengan tulus kepada orang lain. Kiranya melalui keterbukaan dan penyerahan hati yang hancur ini, kita dimampukan-Nya untuk berkata, “Let my life reflect Your heart”, karena kita juga dipanggil untuk memancarkan hati Allah kepada orang-orang yang bahkan telah melukai kita sebagai sebuah bentuk ibadah yang sejati.

Semoga saya bisa menghidupi dan benar-benar mengampuni ......




Menata Hati


Menata Hati Membuat Anda Tenang (2) | Ruang MuslimahBelum bisa menerima, Belum bisa menghadapi. Pas buka mata selalu teringat terngiang dan terputar sempurna di kepala dari awal sampai akhir.

Sepertinya hatiku yang tak cukup melar untuk belajar menerima, menghadapi dan menjalani setiap proses yang ada saat ini.

Tapi kalau hati masih belum bisa menerima atau memfilter sesuatu , jadi fungsinya apa ?

Tetiba jadi kepikiran, apa iya salah satu fungsi hati adalah itu ? Kayaknya sih enggak juga.

Lalu saya mencoba membiarkan hati melihat dan merasa dalam kondisi seperti itu, dan aku menyebutnya sebagai kegelapan.

Aku membiarkan dia memilih, memilih untuk terus dalam gelap atau mencari terang atau mencari tenang atau berdamai dengan semua itu.

Lalu kalau ternyata hatiku betah untuk tetap berada dalam gelap, yaudah aku biarin aja.

Aku percaya bahwa hati itu cerdas, hati itu ingin belajar dan mengajar kita.

Karena sebenarnya hati itu ga takut sama gelap, tapi aku yang takut sama gelap.

Hati itu ga takut bergaul dan berdamai dengan ketidaksempurnaan, tapi aku yang takut dengan ketidaksempurnaan.

Hati yang cerdas mau mencium luka dan mengampuni.

Hati yang cerdas mau meminum lukanya berlimpah-limpah. Menyicip darahnya sendiri. Membalutnya teratur.

Hati yang cerdas tidak perlu buru-buru menjadi sembuh. Karena ia menghargai proses.

Ah, aku harus belajar banyak dari hati ku nih.

Semoga aku bisa , dan kalian semua bisa .



#dari aku yang sedang belajar untuk menata hati

Dari aku yang sedang mendung ---

Akhir-akhir ini saya banyak merenungkan tentang pilihan-pilihan hidup.
Tentang bagaimana aku memilih untuk mengingat kepada seseorang yang sama di ingatan yang paling pertama ketika aku bangun tidur. Adalah sebuah pilihan untuk membangun rumah bersama, bermain bersama, berjalan berdua bersama, mau tinggal atau pergi.

Tuhan menciptakan manusia dengan freewill. Rasanya seperti Tuhan memberikan manusia untuk menikmati kemerdekaan sejati dalam memilih segala sesuatu dalam jalan hidup manusia tersebut. Kemerdekaan sejati untuk mencintai, memiliki, menyayangi maupun membenci.

Bagiku cinta adalah sebuah pilihan, tetapi jatuh kedalamnya bukanlah sebuah pilihan. Sebab jatuh cinta tidak bisa direncanakan. Cinta kadang tidak berujung, tetapi hendaklah ia dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Mengapa begitu, karena apabila kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati kalaupun cinta itu tidak berujung, tidak akan pernah ada rasa menyesal, ketika pun harus berpisah!
Gambar terkait
Segala sesuatu tidak ada yang kebetulan, segala seuatu bukannya tanpa tujuan. Tidak ada jatuh cinta tanpa tujuan, tidak ada kesedihan tanpa tujuan. Tidak ada bahagia tanpa tujuan. Kalaupun tidak memiliki bukan berarti tidak bahagia. Kalaupun berjarak bukan berarti tidak menikmati keindahan. Karena sesungguhnya bahagia itu muncul saat kita merasa kekurangan, dan menikmati keindahan muncul saat kita bisa menghargai sepi dan hening.

Dan untuk kamu, saya mencintaimu bukan karena suatu hari kita dapat membangun rumah tangga bersama (kalaupun dalam hal ini saya sangat ingin sekali). Saya mencintaimu karena saya sudah lebih dulu dicintai dan ketika aku membagi cinta yang ada padaku kepadamu itu hanyalah bonus.

Saya mencintaimu bukan tanpa ketakutan, sekalipun saya selalu bilang bahwa "saya tidak pernah takut menjalani ini denganmu". Tapi ah sudahlah, semua rasa ini tidak ada yang dapat mendefinisikannya.

Karena saya mencintaimu , dengan semua apa yang ada padamu. Lebihmu , kurangmu.

-Dari aku yang sedang mendung-

Mencari Kekasih

Hei,
Aku seorang gadis yang tengah asik bermain
Aku seorang gadis yang tengah asik merajut mimpi
Kemudian tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu
Seakan aku kehilangan waktu,

Usia sudah menginjak seperempat abad
Kini waktunya mencari kekasih
Bukan lagi mencari jati diri

Aku mencari kekasih di antara awan-awan
Di tengah gerimis hujan
Bahkan di tengah langit malam

Lalu kemudian aku melihatnya
Dia ada diatas sana, aku mulai tersenyum bahagia
Merasa sudah tenang karena dia ada

Tapi kemudian aku lupa ,bahwa aku harus menjaganya
Bukan malah terlena karena keberadaannya ,lalu lupa untuk melayaninya
Hingga suatu hari aku melihat, bahwa dia sedang merekah
Bersama dengan bidadari lain di atas sana

Hati ini patah, merana dan terluka
Tak bisa kusalahkan juga dia
Karena tak sepenuhnya ini salah dia
Aku yang lupa, aku yang terlena


Mungkin memang tanpa getaran


Hasil gambar untuk siluet memeluk dari belakang

Menjalani hubungan tanpa getaran itu seperti?

Ketika kamu ditanya lalu hanya diam saja. Kamu memandang kesisi lain padahal jelas saya ada disampingmu. Tapi meskipun kamu hanya diam, saya tetap suka.

Sesungguhnya saya masih tidak mengerti jalan pikiranmu. Karena bagi saya menjalan segala sesuatu tanpa "getaran" itu sulit, apalagi menjalani hubungan yang dimana adalah dua orang sedang belajar untuk menjadi satu.

Dan ketidakmengertian ini saya takutkan akan membuat saya menjadi orang yang paling penakut. Saya tidak bisa maksimal mencintai kamu kalau saya masih tidak bisa mengerti jalan pikiranmu.
Dan kalau mencintaimu membuatku menjadi takut, jelas saya tidak mau.

Karena ketika hanya saya saja yang memiliki getaran itu dan kamu tidak. Bukankah itu bisa menjadi sebuah alasan kelak untuk sebuah perpisahan?

Saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Tidak lagi untuk perpisahan, saya mohon. 

Saya berusaha untuk menjelaskan apa yang saya rasakan, saya inginkan dan apa yang saya bayangkan dalam hubungan ini. Tapi kamu masih diam dan memalingkan wajah ke sisi lain lagi.

Saya memelukmu dari belakang, berharap kamu bisa merasakan getaran dari dalam dada ini. Lalu kamu memandang kebelakang, dan kini kita saling melihat. Saya menatap matamu dalam, mencari sendiri getaran itu disana. Siapa tahu selama ini kamu menyembunyikan getaran itu disana , hanya saja terlalu malu untuk menunjukkannya.


---------------------------

Belum ketemu atau mungkin memang tidak ketemu.

Tidak mudah

Tidak mudah memang melupakanmu. 
Butuh proses yang sepertinya harus agak panjang untuk melupakanmu.

Namun, apalah artinya aku bertahan dalam perasaan yang kamu sendiri pun sudah tak lagi perjuangkan.
Apalah artinya bertahan dalam perasaan yang pada akhirnya hanya membuat rasa tak karuan dalam hati.
Apalah artinya menjaga harapan yang kutahu ujungnya hanya melahirkan sesak dalam dada kemudian.

Tidak mudah memang melupakanmu.
Seseorang yang pernah kukenal dengan perasaan terdalam.
Ah sepertinya aku terjatuh terlalu dalam kali ini.
Orang yang dulu begitu baik, namun nyatanya melukai kemudian.
Dan dengan seenaknya berkata "Yang aku ingin hanya melupakanmu"
Dalam hati aku berkata brengsek  bagaimana mungkin aku tiba-tiba menghilangkanmu dari ingatan?

Tapi sekali lagi, segala hal ternyata sudah berakhir. Kau sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Meski membuat luka yang membekas di hati. Hanya saja, barangkali luka ini adalah bagian dari hidupku yang memang harus dijalani.

Aku hanya ingin pindah. Tapi aku tidak bisa secepat yang kau katakan itu brengsek.
Aku pasti akan merangkak sedikit demi sedikit. Dan  melangkahkan kaki dengan langkah kecil. 

Jangan datang lagi! Sekalipun hanya lewat mimpi, aku mohon padamu jangan datang lagi!
Setidaknya sampai semua perasaan ini benar-benar biasa saja kembali.
Kamu sudah memutuskan hal yang telah kujaga dengan sungguh. 



























Ia adalah

Batas itu bukan jarak.

Ia hanya seperti kata cukup yang mengisyaratkan sesuatu hanya sampai di sini. 

Batas itu kemudian seperti mengingatkan bahwa, ada masa kita pernah bersama.

Mengingatkan kita bahwa kita pernah mencinta tanpa "batas" itu.

Tapi kini semua tak lagi sama.

Kita sesekali masih saling melihat

Sesekali kita masih saling merindu.

Tapi kita tak berani untuk saling bersentuhan.

Kita masih saling menginginkan, tapi tak ada lagi usaha yang sama seperti waktu itu. 

Kita  masih berdiri di tempat yang sama, tetapi sekedar melambai dari kejauhan pun tidak. 

Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya kenangan yang tersimpan disana.

Batas mungkin akhirnya bisa dikatakan sebagai pemisah. 

Yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelerai. 

Yang kemudian membuat kita belajar untuk merenung dan mengambil waktu. 

Tapi ketahui dan sadarilah bahwa batas bukanlah jarak apalagi sampai engkau jadikan sebagai pelarian.

Batas hanyalah sebagian dari kisah hidup kita yang mengatakan cukup, hanya sampai di sini, tidak bisa lagi, tidak sanggup lagi, tidak mampu. 

Dan sederet kata "Tidak" lainnya.

Ia adalah "antara" yang membuat kau dan aku akan sama-sama melihat pada hitam mata kita, lalu kita akan berucap dalam hati " sekian dan terima-kasih"





Hasil gambar untuk jarak antara kita










Sunyi dan Sendiri

Punya ruangan kerja sendiri untuk menulis dan membaca adalah sebuah keistimewaan.
Tenang. Sunyi. Senyap . Yang ada hanya saya dan buku harian atau layar komputer.

Dalam menghasilkan suatu karya , saya harus berada dalam mood yang tepat sehingga saya bisa mempersiapkan karya tersebut agar lahir dengan apik.

Pertama adalah kesunyian.
Bagi saya di dalam kesunyian ada sebuah kelonggaran disana. Kelonggaran tersebut akan memberikan kelegaan. Barangkali rasanya seperti saat engkau mendapatkan panggilan alam di pagi hari dan mengeluarkannya di dalam toilet. Tentulah rasanya puas dan lega bukan?!

Kedua adalah kesendirian. Belajar untuk tidak takut ketika sendiri adalah hal yang penting. Karena sering kali di dalam kesendirian, banyak orang merasa ditinggalkan, dikucilkan bahkan akhirnya memilih mati bunuh diri. Padahal bagiku kesendirian adalah waktu luang untuk dapat berbicara kepada dirimu dan hatimu. Engkau akan semakin mengenal, memeluk, bahkan juga sesekali berbenah. Tapi sekali lagi bicara soal berbenah, cenderung banyak orang yang tidak siap untuk "menemukan" setumpuk hal-hal kotor di dalam dirinya. Padahal itu juga adalah bagian dari dirinya.
Sering kali orang ketika sadar bahwa bagian-bagian kotor itu harusnya dibenahi , malahan mereka lari dan mencari sesuatu untuk menutupinya atau bahkan menguburnya dalam-dalam. Padahal harusnya bagian itu diperbaiki!

Dan kemudian saya teringat dengan quote sederhana tentang sunyi dan sendiri ,,

well, there's something really rewarding  about being alone in a room and writing and feeling like you're doing something really special." - Alex Ebert





Hasil gambar untuk being alone





Menjaga Hati - 2

Menyelamatkan hubungan yang kandas itu seperti menyelamatkan bangunan yang hampir runtuh.
Ada kemungkinan dalam prosesnya kamu akan tertimpa puing dan terluka.
Atau bahkan mati ...


Sebuah hubungan itu dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan. Ketika salah satu bagian dalam bangunan ada yang rusak entah karena tergerus waktu atau terkena badai , proses penyelamatan bangunan rusak dibutuhkan modal yang besar. Modal yang merupakan keberanian , kekuatan dan stok ketahanan emosi yang besar.
Dan satu hal yang harus diingat bahwa bangunan yang sedang coba dibenahi itu bisa roboh kapan saja!

Kita semua tahu betapa banyak hal "bodoh" yang dilakukan manusia atas nama cinta. Kita juga tahu tak sedikit hal-hal indah yang juga dilakukan manusia atas nama cinta. Tetapi satu hal lagi, bahwa dalam masalah hati jangan pernah tak tuntas, sebab akan meninggalkan sesal saat mati!

Buat para perempuan diluar sana yang sedang dan pernah berusaha sebegitu keras menahan fondasi bangunannya, lakukanlah itu sampai tuntas, lakukan segalanya , semampunya. Karena saya sangat tahu , celetukan andai saja dulu lebih menyakitkan ketimbang melakukan hal-hal yang terlihat super bodoh di mata orang lain.

Tetapi hai perempuan , ingatlah untuk selalu hati-hati dengan hatimu. Semoga Sang Pencipta memberimu yang terbaik. Apapun hasil akhirnya, ingatlah perjuanganmu itu pasti akan jadi pelajaran yang berharga. Mungkin bukan untuk sekarang atau 3 bulan lagi atau bahkan bertahun kemudian. Tetapi yakinlah bahwa perjuanganmu akan menjadi cerita yang akan mewarnai kehidupanmu di depan sana,

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Menjaga Hati

Cinta itu akan indah pada waktunya....
Cinta itu akan datang pada waktunya....


Itu adalah sebagian keyakinan saya sebelum negara api menyerang  pada akhirnya saya melakukan evaluasi hati .

Evaluasi hati adalah istilah yang saya gunakan ketika saya hanya ingin sendiri dan berusaha untuk "mendengarkan" hati saya. 

Tetapi sebelum saya bisa "mendengarkan" hati saya, saya mengobrol dengan beberapa orang yang saya anggap punya pemikiran dan masukan yang bagus untuk masalah yang sedang saya hadapi. Karena kalau saya salah orang , maka yang ada saya hanya dikompori. Setelah mengumpulkan beberapa pemikiran dan masukan selanjutnya saya akan duduk. 

.... Tenang.....

Dan mulai mendengarkan hati saya.

Hati tidak bisa dibohongi kawan, dia adalah dirimu yang utuh tetapi tersembunyi dan sering kali terabaikan olehmu. Hati itu seperti seorang sahabat, yang tidak hanya akan mendengarkan ceritamu tetapi ia juga dapat berbicara denganmu , kau hanya perlu lebih peka untuk dapat mendengarnya. Ia juga dapat memberikan nasihat yang paling baik untukmu, percayalah ia tidak akan membiarkanmu jatuh dan memberikan pilihan yang salah. Ia akan berusaha semampunya agar kau tidak melakukan kesalahan. 

Hati begitu sederhana, tidak pernah menuntut tidak pernah memaksa. 
Yang perlu saya dan lakukan adalah mendengarkannya.

Sejujurnya, untuk masalah tertentu saya memilih untuk mendengarkannya. Walaupun dalam banyak hal , saya sering bandel dan suka semaunya sendiri. Tapi saya harus pastikan, tidak bandel untuk kali ini. Kali ini saya harus taat. Saya harus mau mengalah dengan mengambil waktu tenang dan mendengarkan hati saya yang sebenarnya. Dan saya harap kamu pun begitu.

Dulu saya pernah menulis tentang " patah hati" , dan memberikan saran bahwa dengan patah hati kita sedang diajarkan untuk membalut hati. Saya dengan gamblang dan gampang menuliskan beberapa cara membalut hati. Tetapi sekarang sepertinya saya kelabakan.

Maka saya sedang berusaha menyemangati diri saya sendiri dengan 

" BERHENTILAH SAKITI HATIMU SENDIRI "
" YOU DESERVE TO BE HAPPY "

Lalu bagaimana dengan kamu ?

Cobalah sekali-kali ajak hatimu mengobrol dan dengarkanlah dia.

Lebih baik menunggu-waktu yang tepat-supaya bertemu hati yang tepat!

Dan karena perjalanan ini saya mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang pesan Tuhan , "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."

Saya dan kamu punya sebuah amanat untuk menjaga hati kita masing-masing. Bukan malah menitipkan sembarangan kepada orang tidak tepat lain

Deskripsi,,,

Berapa banyak tulisan yang telah saya buat tentangmu?
Berapa banyak memori yang telah terpakai untuk menyimpan semua tentang kita?

Lalu kemudian saya berpikir sejenak , kapan saya akan berhenti menulis tentangmu , kapan saya akan berhenti berharap tentang kita - Tentu saya tidak tahu jawabannya. Bahkan mungkin saja saya tidak akan pernah berhenti untuk menulis tentangmu, dan didalam kedalaman hati tidak akan pernah berhenti berharap tentang kita.

Kecuali jika rasa ini berubah. Hati ini punah.

Hubungan antara dua insan manusia memang tidak mudah. Mungkin keinginan kita menyatukan dua menjadi satu terlalu terburu. Tetapi sunggu mencintai orang itu sungguh menyebalkan. Banyak hal yang membuat kamu akan mulai berkompromi segala sesuatu dengan mengatasnamakan cinta. Atau sering juga kita kenal dengan cinta itu memang butuh suatu  banyak pengorbanan.

Jujur saja mungkin tak ada yang bisa mengerti tentang cinta. Tak ada yang bisa mengartikan dan menggambarkan dengan jelas bagaimana cinta itu. Tidak ada yang bisa kecuali kita menuliskannya. Menuliskan apa yang kita rasa , seperti saya lebih banyak  menulis tentangmu dan tentang kita daripada mengartikannya kepadamu. Tapi sekali lagi tulisan tak selalu dapat melukiskan dan menyampaikan tentang maksud hati sesungguhnya. Karena bahasa terlalu terbatas.

Tak perlu lagi hamburan kata sayang, pengakuan cinta yang terlalu vulgar. Karena cinta hanya kita yang bisa merasakannya. Jahatnya cinta itu adalah dia terasa diam-diam jauh begitu dalam di hati.
Mungkin kalau kelak aku jatuh cinta lagi, aku tidak mau mengungkapkannya. Aku sebut ini sebagai mencintai secara dewasa.

Jadi apa itu mencintai secara dewasa, melakukan cinta yang tidak hanya di bibir saja. 

Hati yang Luka

Tuhan, aku mau taruh setiap hati yang luka ke dalam tanganMu.

Pulihkan atau hancurkan saja hati ini sekalian, 

Lalu bentuk kembali dengan yang baru, seturut dengan kehendakMu.

Hai, hati ku yang sedang luka. Aku tidak mengabaikanmu. Aku akan memelukmu, membalutmu, merawatmu sampai kamu sembuh.  

Aku akan bawa kamu kepada Ahlinya yang dapat menyembuhkan, memulihkan setiap hati yang luka termasuk kamu.

                                           Hasil gambar untuk hati

Kalau kamu luka berarti kamu sedang dalam proses. Proses untuk beranjak dewasa, proses untuk menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. 

Tumbuhlah sayang, tumbuhlah menjadi hati yang kuat ya.

Sekalipun sedang dalam luka dan patah, jangan pernah menyerah ya. 

Mencintailah lebih banyak, mengasihi lebih banyak , memberi lebih banyak.

Bukankah kasih mengalahkan segala sesuatu ?

Lakukanlah itu dengan lebih sungguh, lebih penuh.

Sekali lagi, hati yang luka kamu tidak sendirian!

Kita melewati ini bersama ya..







He is So Good

1 Korintus 15 : 55 - 58
"Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?"
"Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat."
"tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."
"Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

Melisa bersyukur bahwa bahan saat teduh hari ini kembali menguatkan dan mengingatkan melisa bahwa Tuhan telah terlebih dahulu menang melewati segala kuasa maut dan badai hidup ini. Jadi kalau melisa merasa lemah dalam menjalani hidup ini, apabila melisa tetap memandang dan berharap hanya kepada Tuhan dan bukan kepada manusia maka Tuhan akan turun tangan dan memberikan jalan keluar.

Melalui nats ini melisa kembali diingatkan bahwa Tuhan memang tidak janji jalan akan selalu rata, ikut Tuhan ga selalu hidup enak, tetapi Tuhan janji bahwa akan selalu memberikan kekuatan untuk dapat melalui setiap badai hidup ini. Sebab hanya kekuatan dan bersandar pada Tuhan sajalah yang akan membuat kita semua mampu untuk tetap berdiri teguh melewati dan menjalani setiap episode-episode kehidupan.

Mungkin saat ini belum kelihatan apa-apa, mungkin saat ini kaya ga terjadi apa-apa, atau mungkin saat ini kelihatannya Tuhan diam saja tidak melakukan apa-apa. Tapi disaat seperti inilah iman percaya kita diuji. Seperti kaya Ayub "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"

Tetap berdoa, tetap memandang kepada Tuhan, tetap menyembah dan tetap percaya bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jangan kasih kendor kalau dalam bahasa anak sekarang.

Aaah, Tuhan sungguh Engkau unik dan penuh kuasa memakai segala hal bahkan hal yang tidak pernah aku pikirkan sama sekali untuk mengingatkan aku kembali kepadaMu.

Sebab kamu tahu, bahwa memilihmu adalah .....

Untuk pria yang sekarang bersamaku.

Setiap kali kau bertanya, kenapa kamu ga pilih yang ganteng aja dek? Aku hanya bisa tersenyum dan menggeleng tanpa menjelaskan apapun. Tak lama kemudian kamu akan kembali menanyakan hal yang sama, dengan sedikit perubahan tetapi maknanya sama : Banyak loh diluar sana yang ganteng dek. Lagi-lagi aku hanya tersenyum dan menggeleng tanpa menjelaskan apapun. Lalu kamu kesal sendiri dan mulai membanding-bandingkan dirimu dengan orang-orang yang menurutmu memiliki kelebihan banyak darimu.

Begini, biar kujelaskan biar kamu paham apa yang aku lihat darimu. Kalau kau tidak tampan - menurutku - tentu kini aku tidak akan memilih kamu dan bersamamu. Biar begini - wajahku pun tidak terlalu cantik - tentu aku tetap akan memilih yang tampan - menurutku. Mungkin menurutmu ini terdengar klise. Tapi begitulah yang aku pikirkan. Tampan seorang pria , tidak semata putih kulit, hidung mancung, tubuh tinggi atau segala kelebihan fisik lainnya.

Tidak juga yang memakai mobil atau yang berdompet tebal , seperti yang selalu kamu katakan. Untuk apa berusia tua tetapi cara berpikir dan bertutur kata masih kekanakan? Bukan seperti itu yang aku cari. Percayalah bukan seperti itu. Dan hal-hal seperti itu bukan yang aku cari dari dirimu.

Aku hanya ingin kamu menghargai dirimu. Sungguh, ketampanan seorang pria adalah tentang bagaimana dia bisa menempatkan dan menyadari bahwa dirinya adalah sempurna. Penerimaan atas dirinya sendiri, hal itu jauh lebih sulit dilakukan daripada penerimaan dari orang lain. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menerima dirimu, dan percaya bahwa aku menerima dirimu tanpa ada embel-embel dibelakangnya.

Sungguh, aku tidak bodoh saat memutuskan untuk memilihmu. Aku menyukai kamu karena aku menemukan kesederhanaan dalam dirimu. Dan sewajarnya itu sudah menjadi definisi tampan bagiku.

Jangan mempertanyakan lagi. Rawat dan jagalah apa yang kamu miliki. Meski kulitmu tidak lebih putih dari pria lain, hidungmu tidak lebih mancung dari pria lain . Kesemua yang ada pada dirimu sudah membuatmu terlihat tampan, jangan suka merendah lagi.

Sebab kamu tahu, bahwa memilihmu adalah keputusan yang baik yang pernah kulakukan.


-CAM-

Teruntuk Sahabat Baikku

Kamu semakin jauh saja. Jarak seakan merentang tak terkira dan tak terbatas. Kesibukan dari kita masing-masing mulai membunuh kata, suara dan rencana. Kebersamaan ternyata tidak seindah masa-masa remaja dulu. Usia dan pekerjaan mulai merebut hidup kita semua. Semua tiba-tiba menjadi hal-hal yang harus diselesaikan. Kita dipaksa mengabaikan. Kita seakan berubah menjadi manusia yang tak pernah punya waktu senggang untuk lainnya.

Sudahkah kamu menemui dirimu sendiri? Ada banyak orang yang kehilangan diri mereka sendiri, sebab terlalu sibuk bekerja sepanjang hari. Cukup aku yang jauh darimu,jangan sampai asing dengan semua yang kamu punya.
                    Hasil gambar untuk sahabat harapan
Sahabat baikku, yang kini sedang sibuk mengejar impian dan hidup yang lebih mapan. Jangan lupa, bahagia kadang datang dari hal-hal sederhana. Nanti kalau kamu sudah punya waktu senggang, jangan lupa berkabar sekedar membalas pesan sudah lebih dari cukup bagiku. Rindu kadang membuat kita ingin saling sapa, lalu abai sebab merasa asing di kepala dan di hati. Jangan lama-lama begitu ya, jarak dan waktu yang membelenggu sudah terlalu lama menjauhkanmu dari diriku.

Pulanglah menemui dirimu yang tersisa dalam persahabatan kita. Temui rencana dan suara-suara keras yang kita miliki dulu. Bekerja sepenuh hati itu perlu, namun hidup tidak melulu tentang itu. Ada bagian-bagian dari luar dirimu yang menunggu dirimu, merindukanmu bahkan walau hanya sekedar bertegur sapa. Bagian-bagian yang sabar memeluk rindu dan berbagi mimpi bersama. Bagian dari dirimu yang masih kujaga dalam diriku.


Karya Penebusan

Tulisan ini berdasarkan pada Yohanes 9 : 1-11 dengan judul perikop "Orang yang buta sejak lahirnya."

1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya : "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"
3 Jawab Yesus :" Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan -pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.
5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."
6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
7 dan berkata kepadanya :" Pergilah basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artuinya :" Yang diutus." Maka pergilah orang itu , ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
8 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata :" Bukankah dia ini , yang selalu mengemis?"
9 Ada yang berkata :"Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata :"Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata : "Benar, Akulah itu."
10 Kata mereka kepadanya :"Bagaimana matamu menjadi melek?"
11 Jawabnya :"Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku :Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat."

Sama seperti orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan , demikian juga dengan kita. Bagaimana pun dan apa pun keadaan kita, Tuhan pasti dapat menyembuhkan dan memulihkan kita.
Asalkan kita mau dengan rendah hati dan rendah diri datang kepada-Nya. Kita yang dulu telah berdosa telah diselamatkan oleh kematianNya di kayu salib.
Kasih mana lagi yang begitu tulus, begitu mulia selain daripada karya penebusan Kristus di kayu salib.
Jangan pernah jauh dan renggangkan peganganmu dan hubunganmu kepada Tuhan. 
Karena hanya dari Dia lah, segala penghiburan, kekuatan, sukacita dan damai sejahtera sejati datang. Sebab hanya Dia lah Pribadi yang dapat memuaskan setiap kebutuhan hatimu.

Datang kepada-Nya , serahkan seluruh hidupmu bukan sedikit, sebagian atau setengahnya tetapi serahkan SEMUANYA. 
Biarkan Dia berdaulat penuh atas hidupmu, dan kau akan lihat bagaimana Dia merubah hidupmu.
Dan memakai engkau untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah yang besar melalui hidupmu, agar dapat membuat mereka yang belum percaya menjadi percaya.

Biarlah hidupmu menjadi kesaksian bagi banyak orang. Sehingga semua lidah mengaku dan semua lutut bertelut bahwa Yesuslah Tuhan dan Juruselamat bagi umat manusia.

KEEP FAITH!